Jumat, 21 Agustus 2020

Pembagian Zaman Pra Sejarah

 ZAMAN PRSEJARAH INDONESIA

A. Periodisasi Zaman Prasejarah Indonesia

Dalam sejarah waktu merupakan unsur yang sangat esensial, sehingga pembagian waktu berdasarkan periodisasi merupakan pilihan yang sangat baik. Dengan demikian diharapkan uraian tentang kejadian dan peristiwa dalam sejarah dapat lebih bersifat kronologis. Sekitar tahun 1836 seorang ahli sejarah dari Denmark CJ. Thomsen mengemukakan periodisasi zaman praaksara. Ia membagi zaman praaksara menjadi 3 zaman yaitu: zaman batu, zaman perunggu dan zaman besi.

 Konsep ini bertahan lama di Eropa Barat dan terkenal dengan sebutan three age system. Konsep yang dikemukakan oleh Thomsen ini menitikberatkan pada pendekatan yang bersifat teknis yang didasarkan pada penemuan atas alat-alat yang ditinggalkan. Jadi yang dimaksud zaman batu adalah zaman dimana peralatan manusia dibuat dari batu, zaman perunggu berciri khas peralatan manusia dibuat dari perunggu sedangkan zaman besi adalah zaman dimana peralatan manusia praaksara dibuat dari besi. Konsep periodisasi zaman praaksara Indonesia juga terpengaruh oleh pendekatan model Thonsen ini. Pakar sejarah dari Indonesia R Soekmono membagi zaman prasejarah Indonesia menjadi 2 zaman yaitu zaman batu (meliputi: Palaeolithikum, Mesolithikum, dan neolithikum) dan zaman logam (meliputi zaman tembaga, perunggu dan besi) 

Periodisasi zaman praaksara Indonesia memasuki tahap baru ktika pada sekitar tahun 1970 seorang ahli sejarah R.P. Soeroso menggunakan pendekatan sosial ekonomis untuk membat periodisasi zaman praaksara Indonesia. 

Dengan pendekatan baru ini maka zaman praaksara Indoenesia dibagi menjadi 3 zaman yaitu: 

1. Zaman berburu dan mengumpulkan makanan 

2. Zaman pertanian/bercocok tanam 

3. Zaman perundagian (kemampuan teknik) 

Meskipun masing-masing zaman memiliki karakter dan cirri-ciri khusus, namun tidak berarti dengan bergantinya zaman, karakter pada zaman sebelumya sama sekali hilang. Jadi pada zaman pertanian misalnya masyarakat sama sekali tidak meninggalkan tradisi pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan. Kadang-kadang masyarakat masih berburu  untuk mendapatkan tambahan makanan. Tampaknya model pendekatan social ekonomis inilah yang sekarang dipergunakan untuk membuat periodisasi zaman praaksara Indonesia.

 B. Ciri-ciri Kehidupan Manusia Praaksara 

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna. Meskipun masih primitif, akan tetapi ia dilengkapi dengan akan pikiran sehingga manusia dapat memikirkan cara-cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Demikian juga dengan manusia praaksara, ia mampu mengatasi kesulitan dan tantangan alam dengan memanfaatkan benda-benda yang ada disekitarnya. 

Berdasarkan kemampuan teknologisnya, yang didasarkan pada alat-alat yang ditinggalkannya, periodisasi masyarakat praaksara Indonesia dapat dirinci menjadi 1. Zaman batu yang meliputi: palaeolithikum, mesozoikum, dan neolitikum. 2. Zaman logam yang meliputi: zaman tembaga, perunggu dan besi. 

Zaman batu merupakan suatu periode dimana peralatan manusia pada saat itu dibuat dari batu. Dengan kemampuan yang terbatas manusia praaksara memanfaatkan batu untuk membantu mengatasi tantangan alam. Batu mereka manfaatkan untuk membuat kapak, pisau dan alat-alat lain yang menunjang kehidupan mereka pada saat itu. Sedangkan zaman logam merupakan suatu periode dimana manusia praaksara telah mengenal logam dan memanfaatkannya sebagai bahan untuk membuat alat-alat dan perkakas yang dibutuhkannya. Untuk lebih jelasnya marilah kita membahas masing-masing periode perkembangan manusia praaksara tersebut.

 1. Zaman Palaeolithikum 

Zaman palaeolithikum atau zaman batu tua merupakan zaman dimana peralatan manusia prasejarah dibuat dari batu yang cara pengerjaannya masih sangat kasar. Zaman ini berlangsung pada zaman pleistosen yang berlangsung kira-kira 600.000 tahun lamanya. Pada saat itu manusia praaksara kehidupannya masih sangat sederhana. Mereka hidup berkelompok dengan anggota kelompok sebanyak 10-15 orang. Mereka sudah mengenal api, meskipun baru dimanfaatkan sebagai senjata untuk menghadapi makhluk hidup lain, atau untuk menakuti binatang buruan. Manusia praaksara pada zaman palaeolithikum ini mendapatkan bahan makanan dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan dengan memungut langsung dari alam (food gathering). Mereka sangat tergantung dengan persediaan makanan dari alam karena mereka belum mampu memproduksi makanan. Oleh karenanya mereka selalu berpindah pindah tempat (nomaden) mengikuti musim makanan. Apabila makanan di tempat mereka habis, maka mereka akan pindah ke tempat lain yang persediaan makanannya masih mencukupi. Biasanya manusia purba hidup di dalam gua atau di pinggir sungai dengan tujuan utama untuk mempermudah dalam pencarian makanan. Sungai merupakan tempat yang paling memungkinkan untuk mendapatkan ikan. Sedangkan gua dapat mereka manfaatkan sebagai tempat untuk melindungi diri dari cuaca panas, hujan dan serangan dari binatang buas. 

2. Zaman Mesolithikum

 Zaman mesolithikum atau zaman batu tengah merupakan zaman peralihan dari zaman palaeolithikum menuju ke zaman neolithikum. Pada zaman ini kehidupan manusia praaksara belum banyak mengalami perubahan. Alat-alat yang dihasilkan masih terlihat kasar meskipun telah ada upaya untuk memper-halus dan mengasahnya.agar kelihatan lebih indah. Pada masa ini manusia mulai hidup menetap dengan membuat rumah panggung di tepi pantai atau tinggal di dalam gua dan ceruk-ceruk batu padas. Manusia prasejarah juga mulai bercocok tanam dan telah terlihat mulai mengatur masyarakatnya. Mereka melakukan pembagian pekerjaan dimana kaum laki-laki berburu, sedangkan kaum wanita mengurusi anak dan membuat kerajinan berupa anyaman dan keranjang. Manusia praaksara juga mulai mengenal kesenian. Di dalam sebuah gua di Maros (Sulawesi Selatan) ditemukan tapak tangan berwarna merah dan gambar babi hutan yang oleh para ahli diyakini sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat prasejarah. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebudayaan mesolithikum dapat dikategorikan dalam dua unit budaya yaitu 

3. Zaman Neolithikum 

Zaman neolithikum atau zaman batu muda merupakan revolusi dalam kehidupan manusia praaksara. Hal ini terkait dengan pemikiran mereka untuk tidak menggantungkan diri dengan alam dan mulai berusaha untuk menghasilkan makanan sendiri (food producing) dengan cara bercocok tanam. Di samping bercocok tanam manusia praaksara juga mulai beternak sapi dan kuda yang diambil dagingnya untuk dikonsumsi. Manusia praaksara juga telah hidup dengan menetap (sedenter). Mereka membangun rumah-rumah dalam kelompok-kelompok yang mendiami suatu wilayah tertentu. Peralatan yang digunakan juga telah diasah dengan halus sehingga kelihatannya lebih indah.  Kebudayaan mereka juga telah mengalami kemajuan yang ditunjukkan dengan kemampuan mereka menghasilkan gerabah dan tenunan. Pola hidup menetap yang mereka jalani menghasilkan kebudayaan yang lebih maju, karena mereka mempunyai waktu luang untuk memikirkan kehidupannya. 

4. Zaman Megalithikum 

Zaman megalithikum atau zaman batu besar adalah suatu kebudayaan yang berkaitan dengan kehidupan religius manusia praaksara. Zaman megalithikum sejalan dengan zaman neolithikum karenanya lebih tepat bila disebut dengan kebudayaan megalithikum. Zaman megalithikum terbagi dalam dua fase pencapaian. Fase pertama terkait dengan alat-alat upacara, sedangkan fase kedua terkait dengan upacara penguburan. Kebudayaan megalithikum menghasilkan alat-alat antara lain:

1.   Menhir yaitu tugu batu yang dibuat dengan tujuan untuk menghormati  roh nenek moyang. 

2.   Dolmen yaitu meja batu dimana kakinya berupa tugu batu (menhir). Biasanya meja batu ini digunakan untuk meletakkan sesaji. Kadang-kadang dibawah dolmen adalah sebuah kuburan, sehingga orang sering menganggapnya sebagai peti kubur. 

3.   Peti kubur yaitu potongan batu yang disusun menjadi sebuah peti yang digunakan untuk meletakkan jenazah. 

4.   Sarkofagus yaitu keranda dari batu utuh (monolith)yang dianggap memiliki kekuatan magis. 

5.   Waruga adalah peti kubur yang berbentuk kubus atau bulat. 

6.   Punden berundak yaitu sebuah bangunan yang digunakan untuk sesaji yang merupakan bentuk dasar dari bangunan candi.

Pertanyaan!

1.    Mengapa pada zaman tersebut disebut zaman batu?

2.Apakah pada zaman batu, manusia sudah mempunyai kepercayaan? Sebutkan dan Jelaskan!

jawab pertanyaan di kolom komentar (tulis nama dan kelas)

1 komentar:

  1. Nama: Mutiara Khairunnisa Zulkifli
    Kelas: X IPA 1

    Jawaban:
    1. Zaman tersebut disebut dengan zaman batu, karena pada zaman itu manusia purba menggunakan batu sebagai alat untuk melakukan kehidupan sehari- hari, seperti berburu, memasak, dll.
    2. Pada zaman batu, manusia sudah mempunyai kepercayaan. Manusia pada zaman ini mulai menyadari bahwa ada sesuatu kekuatan yang dapat menggerakkan sesuatu yang lainnya, yaitu jiwa. Dari situlah manusia mencoba mendekatkan diri dengan kekuatan" tsb , seperti memercayai bahwa pohon" yang besar, batu, mata air dan lainnnya itu ada yang menghuni. Kekuatan" tsb perlahan menjadi dasar sistem kepercayaan yang mereka anut. Mereka mengadakan upacara , ritual pemujaan, mempersembahkan sesaji, dll untuk sistem kepercayaan yang mereka anut.

    Sistem kepercayaan itu terbagi menjadi 3, yaitu:
    a. Animisme, yakni kepercayaan manusia purba terhadap roh nenek moyang yang diyakini mendiami semua benda benda di alam sekitar dan memberi pengaruh yang kuat terhadap lingkungan.
    b. Dinamisme, yakni kepercayaan manusia purba yang meyakini benda benda tertentu memiliki kekuatan atau tenaga ghaib yang berpengaruh kuat terhadap kesuksesan dan kegagalan manusia dlm melakukan sesuatu.
    c. Totetisme, yakni kepercayaan manusia purba yg meyakini bahwa hewan tertentu merupakan nenek moyang mereka.

    BalasHapus